Pulau Morotai, “Surga” Bagi Divers dan Travelers

MOROTAI merupakan pulau di Kepulauan Halmahera yang memiliki pesona alam dan bahari yang menakjubkan. Bahkan saking indahnya, Pulau Morotai sampai dijuluki sebagai Maldives-nya Indonesia.  Banyak traveler pun jatuh cinta dengan Pulau Morotai hingga membuatnya balik lagi dan lagi.

Seperti di rumah

Satu diantaranya adalah Riyo Sudjana, seorang diver dan pengusaha. Ya, ia mengaku dalam setahun bisa 2-3 kali liburan ke Pulau Morotai. Hal itu karena Riyo telah terpesona dengan keindahan alam dan keramahan masyarakatnya.

Mula-mula Riyo jatuh cinta dengan keindahan alamnya, baru setelah itu ia jatuh hati dengan hospitality masyarakat Morotai. Riyo merasakan keramahan tersebut saat kali kedua ia datang ke Morotai seorang diri. Selama hampir dua minggu ia tinggal dan keliling Pulau Morotai –  untuk mengenal lebih dekat Pulau Morotai, dan Riyo merasakan ada kecocokan antara dirinya dengan karakter masyarakat Morotai.

Riyo bercerita bahwa dirinya bisa ngobrol “panjang-lebar” di rumah warga setempat yang belum ia kenal ataupun yang baru dia kenal. Dan mereka sendiri tidak merasa risih bercengkrama dengan Riyo – yang notabene seorang pendatang. Hal itulah yang membuat Riyo lambat laun betah jika pelesiran ke Pulau Morotai.

“Saya ini diver, sudah diving kemana-mana. Hampir seluruh spot diving Indonesia Timur saya sudah pernah coba, seperti Labuan Bajo, Raja Ampat, dan spot-spot diving di Sulawesi. Tapi nggak ada yang membuat saya seperti di rumah. Cuma di Morotai saya merasakan seperti di rumah,” kata Riyo melalui sambungan telepon, baru-baru ini.

“Kalau di Morotai, jangan kaget jika kamu lewat di suatu perumahan warga, terus kamu ditawari mampir untuk sekedar ngopi atau ngobrol. Pertama kalinya, jujur, saya kaget ditawari mampir. ‘Kok sudah ditawari mampir kan baru kenal?’ Tanya saya dalam hati. Tapi begitu main ke daerah lain rupanya warga setempat suka menawari mampir juga. Dan akhirnya saya jadi sadar ‘oh ini karena memang karakter masyarakatnya (ramah-ramah),” tambah Riyo.

Setiap spot diving punya keunikan masing-masing

Sementara untuk keindahan alamnya, Riyo menilai Pulau Morotai merupakan salah satu spot diving terbaik di Indonesia. Sebab pulau Morotai punya 28 diving spot yang setiap spot-nya punya keunikan tersendiri. Apakah itu, blacktip shark, kapal dan mobil bekas Perang Dunia II, arusnya, coral, sampai cave.

Diving di Pulau Matita, (Foto: Riyo Sudjana)

“Ditambah lagi, transportasi ke Morotai itu gampang. Dari airport ke tempat penginapan, D Aloha Resort, cuma 10 menit. Kalau dari Halmahera mau naik kapal Feri cuma empat jam, jadi nggak capek di jalan. Kalau diving di tempat lain biasanya lebih dari itu. Bisa 10 jam. Itu yang biasanya kita para diver mikir dua kali. Nah di sini kan ada airport,” terang mantan seorang chef ini.

 Hingga saat ini, Riyo mengaku, masih suka traveling ke Morotai seorang diri. Tapi belakangan ia merangkap juga sebagai trip planner, di mana Riyo membawa teman-temannya agar bisa mengenal Pulau Morotai lebih dekat. Apakah itu model, presenter, pengacara, dan profesi lain yang punya banyak waktu untuk liburan.

View guarantee

Satu hal yang biasa Riyo janjikan ke temannya jika mengajak ke Pulau Morotai adalah view guarantee dengan spot diving yang beragam. Menurutnya, hal itu tak banyak ditawarkan di tempat destinasi wisata yang lain. Apalagi, tempat wisata yang berada di Kawasan Ekonomi Khusus Morotai. Karena Jababeka Morotai – selaku pengembang kawasan – sudah menyediakan juga fasilitas pendukung bagi traveler, seperti resort dan homestay, Oleh karenanya, jarang yang menolak tawaran Riyo saat dirinya menawarkan paket trip ke Morotai.

“Kalau dari keindahan alam bawah lautnya, pemandangannya itu terjamin. View guarantee deh. Laut di Morotai itu beda banget. Saya pernah ke tempat-tempat diving, mulai dari dalam negeri sampai luar negeri, seperti di Australia.

Kalau di Pulau Morotai spot diving-nya itu beragam. Mau diving yang ‘cantik-cantik’; main dengan ikan kecill berwarna warni di atas coral tapi nggak dalam, itu di Morotai ada. Atau mau main yang ‘dalam-dalam’, main di kapal (karam), main di arus kencang atau lambat, atau mau caving? Semua ada. Apa mau ngejar mola atau paus pembunuh? Di sini ada jalur dan masa masanya,” tambah Riyo.

Bahkan, tambah Riyo, di Morotai ada gugusan coral sepanjang 300 meter di Pulau Rao-Morotai yang menurut Lembaga penelitian Karang NGO internasional usianya lebih tua dibanding gugusan coral yang di Raja Ampat. Hanya saja orang belum banyak yang tahu.

Diving di atas berbagai karang, (Foto: Riyo Sudjana)

“Oleh karenanya, saya banyak mengajak teman-teman saya ke sini agar mereka tahu. ‘Tenang aja, di Morotai itu banyak pilihan. Jadi lu nggak bakal bosan’, saya bilang. Sebab kalau kita mau diving ke Banda aja, misalnya. Kalau sudah selesai mengeksplor spot diving di sana, yaudah kita pulang. Dapatnya satu spot aja. Kalau di Morotai bisa dapat banyak, tinggal pilih,” terang Riyo.

 Di luar kegiatan diving

Buat kamu yang tidak ingin diving, Pulau Morotai juga merupakan tempat wisata yang asyik. Kamu tak akan kehabisan aktivitas selama di sana. Di Pulau Morotai, kamu bisa menjelajahi pulau-pulau indah tak berpenghuni. Salah satunya ke Dodola, destinasi ikonik di pulau Morotai. “Di sana kamu bisa mantai, foto-foto, berenang di pinggir pulau yang airnya sangat jernih,” terang Riyo.

Pulau Dodola, (Foto: Riyo Sudjana)

“Mancing juga salah satu kegiatan yang mengasyikkan di Morotai. Karena kamu nggak perlu harus pergi ke tengah lautan. Cukup 30 menit sudah dapat ikan tuna yang besar-besar.

 Kalau mancing di pulau Jawa kan kita harus ke tengah laut dengan perjalanan 5-6 jam. Nanti begitu kita dapat ikan, langsung ke tempat pengolahan ikan yang berada di pinggir pantai. Lanjut di-fillet dagingnya, jadi sashimi yang enak banget pasti kalau langsung dimakan. Fresh banget soalnya,” ungkap Riyo.

Mancing di laut Morotai, (Foto: Riyo Sudjana)

Kalau mau yang memacu adrenalin, kamu bisa offroad dan tracking menuju ke Air Terjun Raja, goa bekas tempat persembunyian tentara jepang, atau masuk hutan untuk mencari burung endemik kepulauan Indonesia Timur” terang Riyo.

Offroad keliling Morotai, (Foto Riyo Sudjana)

Menurut Riyo, para diver atau traveler perlu mencoba liburan ke Pulau Morotai –setidaknya sekali seumur hidup. Karena pesona yang dihadirkan Pulau Morotai tak kalah dengan Labuan Bajo, Raja Ampat atau Bali.

“Banyak patokan orang untuk diving itu Labuan Bajo atau Raja Ampat, dan kalau mau murah itu ke Bali. Tapi kalau saya bilang, ‘cobain deh ke Morotai’. Labuan Bajo itu arusnya kencang, jadi hanya buat diver yang punya lisensi advance. Pemula nggak bisa. Kalau di Morotai, spot diving untuk pemula ada, untuk advance juga ada. Kita bisa menyelam dan masuk-keluar goa. Masuk di kedalaman 28 meter dan keluar di kedalaman 32 meter. Soal harga, Morotai juga bersahabat,” katanya.

The best season in Morotai

Bagaimana soal best season sendiri di Morotai? Riyo menyarankan di bulan Maret sampai September. Karena periode tersebut merupakan best season wisata laut di Morotai.

Namun demikian, bukan berarti diluar season tersebut tidak bagus. Hanya saja kalau setelah bulan September, tidak semuanya bagus. “Kalau the best season, semua wisatanya bagus. Lautnya tenang dan airnya jernih. Sementara untuk memancing tuna dan ikan-ikan pelagis besar, sebaiknya di bulan September sampai Februari, karena di periode itu ombaknya sedang kuat,” ungkapnya.

“Kalau durasi liburan di Morotai sebaiknya berapa hari? Menurut saya, kalau kamu diving, 4-5 hari itu maksa. Sebaiknya seminggu. Karena untuk diving ke satu spot, ‘makan waktu’ seharian, yaitu berangkat pagi, pulang sore. Karena kalau baru diving, besoknya ‘dihajar’ diving lagi, badan ‘rontok’. Seminggu sudah paling minimum, agar badan bisa istirahat. Kalau mau nyoba ‘wisata darat’-nya tinggal nambah hari lagi,” tutup Riyo.

Kalau kamu tidak mau pusing ngatur trip-nya, kamu bisa hubungi D’Aloha Resort yang sudah memiliki paket trip yang lengkap – apakah diving, hopping island dan berbagai wisata lain di Pulau Morotai. D’Aloha akan memenuhi kebutuhan kemana pun pilihan destinasimu, mulai dari akomodasi, transportasi, pemandu profesional selama berada di Morotai, sampai antar-jemput ke Bandara Leo Wattimena Morotai.

Salah satu kamar yang disediakan D’Aloha Resort, (Foto: Jababeka Morotai)

Hingga kini, makin banyak traveler balik ke Morotai karena kecantikan alamnya seperti yang dirasakan Riyo. Bahkan sampai ada yang membeli properti di sana. Adapun yang laku dibeli oleh wisatawan biasanya adalah Falila Loft Studio, sebuah apartemen modern dengan harga 180 jutaan yang bisa dicicil sekitar 1,5  jutaan per bulan.

Alasan mereka beli apartemen sendiri agar mereka tidak perlu lagi mengeluarkan biaya akomodasi saat di Morotai sekaligus sebagai passive income karena apartemen tersebut bisa disewakan ke masyarakat atau wisatawan. Bahkan bisa dijual ke orang asing karena berada di Kawasan Ekonomi Khusus. Jika kamu ingin mengetahui lebih dalam mengenai Falila Loft Studio, bisa dicek di  https://www.jababekamorotai.com/falila-loft-studio/